Bahaya Memelihara Primata: Dari Cedera Hingga Pandemi

 


Bahaya Memelihara Primata: Dari Cedera Hingga Pandemi 

Anak orangutan yang dievakuasi setelah dipelihara dengan tempat tinggal dan makanan yang tidak layak (Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190123190612-20-363264/orang-utan-di-aceh-6-bulan-makan-sisa-majikan-di-kandang-ayam)

 

Primata (Ordo Primata) merupakan kelompok makhluk hidup yang memiliki postur tubuh tegak, lima buah jari, mata yang memandang ke depan, rambut sebagai penutup tubuh, dan kelenjar susu. Anggota kelompok primata terdiri atas manusia dan primata selain manusia (nonhuman primates). Beberapa primata selain manusia yang umum dikenal di antaranya adalah monyet, orang utan, beruk, lutung, kukang, owa, siamang, dan bekantan. 

Primata terdapat di berbagai daerah tropis dan subtropis di dunia. Habitat primata meliputi berbagai bioma dan ketinggian wilayah. Primata sangat bergantung pada hutan sebagai tempat tinggal dan sumber makanan, bagi primata arboreal (sebagian besar hidupnya di atas pohon), maupun primata terrestrial (sebagian besar hidupnya di atas tanah). Sejumlah spesies primata hanya hidup di suatu wilayah tertentu (endemik), sehingga persebaran mereka terbatas. Primata yang berasal dari Indonesia banyak yang merupakan primata endemik, disebabkan geografis Indonesia yang berupa kepulauan. Peran primata di habitatnya yaitu sebagai penyebar biji-bijian serta pengendali populasi sejumlah jenis tumbuhan dan serangga yang merupakan sumber makanannya, sehingga dapat terjadi regenerasi dan perkembangan ekosistem.

Populasi primata di alam, terutama primata yang endemik, cenderung menurun selama beberapa generasi terakhir akibat berbagai aktivitas manusia di habitat mereka. Aktivitas manusia yang mengancam populasi primata antara lain penebangan hutan, pembukaan lahan, pertambangan, pembuangan limbah, dan perburuan. Upaya konservasi in situ (di dalam habitat makhluk hidup) dan ex situ (di luar habitat makhluk hidup) pun dilakukan demi kelestarian primata. Namun demikian, di luar upaya konservasi yang resmi, terdapat sejumlah orang yang memelihara primata secara pribadi.

Terdapat sejumlah alasan mengapa beberapa orang memelihara primata. Pertama, karena wajah primata yang lucu, terutama individu yang masih bayi dan anak-anak. Kedua, beberapa aspek dari primata mirip dengan manusia, seperti kemiripan fisik dan kemampuan menggenggam. Ketiga, memelihara primata setelah "menyelamatkan"nya dari pihak lain, yang tidak disertai pengetahuan bahwa primata tersebut tidak boleh dipelihara kembali. Keempat, primata dipelihara untuk kebanggaan dan dipamerkan, terutama pada era ini di mana media sosial dan tren yang melibatkan influencers berkembang dengan pesat. Kelima, primata dipelihara untuk diperdagangkan agar memperoleh keuntungan materi. 

Yang kerap terjadi dari primata yang dipelihara hanyalah dimiliki tanpa diperlakukan dengan baik. Sejumlah perlakuan tidak baik yang dialami primata peliharaan yaitu menempatkannya di kandang yang sempit dan kotor, tidak diberi makanan yang sesuai dan cukup, memisahkannya dari anak atau induknya saat masih menyusui, merantai, atau mengikatnya. Tetapi, walau seseorang merasa dapat memelihara primata dengan baik, primata tetap tidak boleh dijadikan hewan peliharaan dan diperdagangkan, terutama primata yang dilindungi. Primata hanya boleh ditangani oleh pihak-pihak yang berwenang dan memiliki keahlian yang relevan dari pendidikan atau pelatihan formal, seperti pengelola konservasi in situ dan ex situ serta polisi kehutanan.

Primata yang dipelihara, meski diklaim telah jinak oleh pemiliknya, tetap berpotensi menyerang penghuni rumah, tetangga, atau merusak kebun dan bangunan. Sebab, lingkungan tempat manusia tinggal tidak cocok dengan kebutuhan mencari makan, kebutuhan sosial, maupun kehidupan dan perilaku alami lainnya dari primata, yang dapat menyebabkan primata stres. Gigitan, cakaran, dan cengkeraman dari primata dapat menyebabkan cedera dan luka serius. Tidak hanya luka fisik, melainkan cedera yang disebabkan zat racun maupun zat kontaminan. Contoh kasus penyerangan oleh primata yang menyebabkan cedera serius yaitu yang menimpa seorang anak berusia 2,5 tahun di Kuningan, Jawa Barat, Oktober 2021 lalu.

Terdapat potensi penularan dan penyebaran penyakit antara manusia dan primata yang dipelihara akibat infeksi bakteri, virus, parasit, racun, atau cacing. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan primata maupun patogen yang masuk ke air, makanan, tanah, pakaian, perabot rumah, dan lain sebagainya. Penyakit yang dapat timbul di antaranya cacar, hepatitis, tuberkulosis, salmonellosis, rabies, dan herpes. Penyakit yang ditularkan di antara manusia dan hewan disebut juga penyakit zoonosis. Istilah penyakit zoonosis belakangan banyak dikenal akibat pandemi (wabah) Covid-19 yang sedang terjadi saat ini, sebab virus Corona termasuk kelompok virus penyebab penyakit zoonosis yang berasal dari kelelawar. Ebola yang mewabah di Afrika selama beberapa tahun terakhir juga merupakan penyakit zoonosis, dan berasal dari primata. Hal tersebut menunjukkan bahwa primata dapat berperan sebagai reservoir (agen penular) penyakit zoonosis yang potensial. Kemudian, sekitar 25% emerging disease (penyakit yang menyerang suatu populasi) pada manusia berasal dari primata. Sehingga, jika kerusakan habitat primata terus berlangsung dan pemeliharaan primata terus dilakukan, bukan tidak mungkin akan terjadi wabah baru lainnya dengan primata sebagai reservoirnya.

Ketertarikan dan perhatian terhadap primata tentu merupakan hal yang sangat baik, namun langkah memeliharanya tidaklah tepat. Masih terdapat cara-cara lain untuk mengungkapkan rasa sayang kita kepada primata. Misalnya, mempelajari primata melalui buku dan sumber lain yang valid, kemudian membagikan pengetahuan yang kita miliki kepada orang lain, disertai meningkatkan kesadaran akan pentingnya kelestarian primata. Kemudian, kita dapat berkunjung ke lokasi konservasi in situ atau ex situ yang memelihara primata di dalamnya, seperti taman nasional dan kebun binatang. Kita juga dapat mendukung badan dan kegiatan terpercaya yang perhatian terhadap primata, dengan berdonasi atau membeli produk yang ditawarkan. Bahkan, kita juga dapat memberikan dampak langsung di lapangan dengan mengikuti penghijauan hutan hingga menjadi konservasionis primata.

 

Referensi:

CNN Indonesia. 2019. Orang Utan di Aceh 6 Bulan Makan Sisa Majikan di Kandang Ayam. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190123190612-20-363264/orang-utan-di-aceh-6-bulan-makan-sisa-majikan-di-kandang-ayam, diakses 5 November 2021, pukul 17.30 WIB.

Kurniawan, I. D., Y. Suryani, A. Kusumorini, & R. T. M. Akbar. 2020. Analisis Potensi Kelelawar (Chiroptera) sebagai Reservoir Alami SARS COV-2 penyebab Covid-19. 10 hlm. Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. 

Lastuti, N. D. R. 2021. Monyet Ekor Panjang Berpotensi Transmisi Zoonosis Entamoeba Spp. pada Manusia. http://news.unair.ac.id/2021/06/21/monyet-ekor-panjang-berpotensi-transmisi-zoonosis-entamoeba-spp-pada-manusia/, diakses 5 November 2021, pukul 17.20 WIB.

Supriatna, J. & E. H. Wahyono. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta: 354 hlm.

Susanti, P. & A. Widarto. 2020. Buku Panduan Penanganan (Handling) Satwa Primata. Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum LHK, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta: xii + 89 hlm.

Wardhani, L. K. 2008. 9 Penyakit Menular dari Satwa Liar. https://www.profauna.org/content/id/9_penyakit_menular_dari_satwa_liar.html, diakses 5 November 2021, pukul 17.10 WIB.

Tribun News. 2021. Anak 2,5 Tahun di Kuningan Diserang Monyet Peliharaan, Orangtua Korban Tak Mau Bicara Karena Syok. https://www.tribunnews.com/regional/2021/10/09/anak-25-tahun-di-kuningan-diserang-monyet-peliharaan-orangtua-korban-tak-mau-bicara-karena-syok, diakses 4 November 2021, pukul 20.00 WIB.


Komentar

Posting Komentar