Jumat, 30 Desember 2016

KSP Macaca UNJ di Seminar Ular KSHL Comata UI


Pengenalan Jenis Ular, Konflik Ular-Manusia, dan Manajemen Gigitan Ular Berbisa di Jabodetabek



Seminar ular merupakan seminar yang diadakan oleh KSHL Comata Universitas Indonesia. Seminar ini mengangkat tema mengenai pengenalan jenis ular, konflik ular-manusia, dan manajemen gigitan ular berbisa di jabodetabek.

Materi pertama dibawakan oleh Dr. Amir Hamidy, M.Sc (Ketua Perhimpunan Herpetologi Indonesia). Materi ini berisi pengenalan jenis ular dan identifikasi jenis ular yang berbisa dan tidak berbisa. Jenis ular berbisa diantaranya ada Elapidae sebanyak 55 jenis, Viperidae sebanyak 21 jenis, Colubridae sebanyak 1 jenis. Phyton termasuk ular yang tidak berbisa tetapi memiliki gigi yang tajam. Ular biasanya bertempat di padang savana, mangrove, hutan gunung dan sungai. Kelenjar bisa pada ular hanya dimiliki oleh ular yang berbiasa dan memiliki gigi tarinng. Ular itu berevolusi mengikuti mangsanya.

Materi kedua dibawakan oleh Arbi Krisna K. (Komunitas Aspera). Beliau memaparkan mengenai komunitas Aspera dan awal mula terbentuknya komunitas Aspera. Aspera merupakan komunitas edukasi dan pemerhati reptile. Komunitas ini didirikan atas kepedulian terhadap pelestarian reptile dan stigma negative masyarakat terhadap keberadaan reptile. Nama Aspera digunakan sebagai bentuk apresiasi pada ular asli Indonesia, yaitu Candoia aspera yang berasal dari Maluku dan Papua. Komunitas Aspera mengadakan beberapa program kerja diantaranya adalah sosialisasi reptile untuk anak anak, remaja, dan umum, rescue reptile di kawasan padat penduduk, herping reptile, pelatihan P3K pada korban gigitan ular, dan pelatihan handling reptile.

Materi ketiga dibawakan oleh salah satu perwakilan dari komunitas Ciliwung Reptil Center (CRC). CRC merupakan komunitas yang terbentuk di tahun 2015 dari sekelompok masyarakat yang ingin belajar mengenai reptile. CRC mempunyai lokasi berkumpul yang terletak di Kp Glonggong, Bojonggede, Bogor. Tepatnya di pinggir sungai ciliung. Target utama dari CRC adalah menjadi pusat edukasi bagi masyarakat yang ingin belajar tentang herpetofauna. Kegiatan yang dilakukan CRC diantaranya adalah edukasi yang berisi paradigma dimana pendangan masyarakat bahwa ular itu berbahaya, lalu ada penyadartahuan yaitu dibutuhkan penyadartahuan kepada masyarakat tentang ular adar paradigmanya berubah, lalu ada konservasi yang diharapkan bisa melestarikan semua jenis ular.

Materi keempat dibawakan oleh Rudi Rahadian (Yayasan Sioux Indonesia). Sioux merupakan sebuah lembaga studi ular Indonesia. Sioux memiliki visi untuk menjadi lembaga yang mapan dan mandiri dibidang studi ular untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ular dengan jalan mengubah paradigma masyarakat tentang ular sehingga ular dapat terhindar dari ancaman kepunahan akibat ulah manusia.

Materi terakhir dibawakan oleh DR. dr. Tri Maharani, M.Si., SpEM. (Ahli penanganan gigitan ular berbisa (RECS Indonesia) Advisor temporary of WHO for snake bite ). Beliau memaparkan mengenai pertolongan pertama pada gigitan ular. Data yang terkumpul (Maret 2015 – Agustus 2016) di kabupaten Bondowoso terdapat 148 kasus mulai kasus gigitan ular viper pohon ada 85 kasus, ular weling 5 kasus, kobra ada 5 kasus, dan ular tanah ada 2 kasus. 5 kasus oleh gigtan ular yang tidak berbisa. Bisa ular itu awal pertamanya tidak masuk ke pembuluh darah. Jadi masih bisa ditangani oleh pertolongan pertama dengan menggunakan bahan yang elastis, lalu diikat di kelenjar limfatik. Pressure ini dilakukan dengan elastic bandage supaya bisa ular tidak langsung mengalik ke pembuluh darah ataupun saraf. Indonesia memiliki anti bisa ular yaitu serum anti bisa ular (SABU), serum ini baru ada 3 saja di indonesia dimana 3 itu adalah ular Agkistradon rhodostoma, Naja sputatrix, dan Bungarus fasciatus. Serum terssebut digunakan pada saat terkena gigitan ular yang sudah memiliki serum anti bisa. Tetapi banyak yang juga menyalahgunakan serum tersebut, dimana pada korban gigitan ular yang tidak berbisa, dokter disana yang belum memahami mengenai ini memberikan serum tersebut. Padahal serum tersebut hanya untuk jenis ular yang sudah disebutkan. 



Rabu, 28 Desember 2016

KSP Macaca UNJ di Seminar Burung KPB Nycticorax


”Rekam Jejak Dinamika Paruh Bengkok di Indonesia”



Seminar ini dibuka dengan pembukaan oleh Rizky Darmansyah (Ketua Pelaksana), Adam G. Priambodo (Ketua KPB Nycticorax UNJ) dan Bpk. Agung Sedayu (Pembina KPB Nycticorax UNJ). Acara dilanjutkan dengan materi pertama diisi oleh Jihad, S.Si mengenai 
”Status Burung Paruh Bengkok di Indonesia”. 

Burung paruh bengkok adalah semua burung yang ada di family Psittaciformes dan paruhnya melengkung. Indonesia memiliki jumlah jenis endemik burung paruh bengkok terbanyak (38 endemic dari 89 jenis di Indonesia). Status keterancamannya : 2 jenis kritis (Cacatua sulphurea dan Charmosyna toxopei), 4 jenis terancam, 6 jenis rentan, 17 hampir terancam,  dan 60 beresiko rendah. Ancaman yang terjadi pada burung paruh bengkok diantaranya adalah hilangnya dan perburuan. hal-hal yang dapat dilakukan untuk membantu konservasi yaitu dengan menceagah pemeliharaan, terlibat kempanye, dan riset.

Acara dilanjutkan dengan materi kedua yang dibawakan oleh Andes Sachran, S.Si mengenai ”Perilaku Harian Burung Bayan Jantan”. Perilaku harian yang diamati adalah makan, diam, dan kawin. Terdapat 2 kandang burung bayan. Kandang 1 berisi 2 jantan dan 1 betina. Kandang 2 berisi 1 jantan dan 1 betina. Perilaku aktivitas lebih banyak dilakukan oleh burung bayan jantan yang memiliki pesaing. Burung bayan yang memiliki pesaing lebih banyak melakukan kopulasi untuk mempererat hubungannya dengan betina. Penempatan 2 burung bayan jantan dan 1 burung bayan betina dalam satu kandang tidak baik karena dapat mengakibatkan 1 burung bayan jantan stress karena tidak memiliki pasangan.

Closing statement dari Jihad, S.Si dan Andes Sachran, S.Si yaitu burung lebih indah di alam, dari pada di kandang, untuk membantu konservasi dapat dilakukan dengan pencegahan pemeliharaan, kampanye dari lembaga konservasi dan riset. Kemudian pemberian sertifikat dan bingkisan moderator yang diserahkan oleh Bpk. Agung Sedayu.

Acaraa selanjutnya diisi dengan pengisian materi terakhir oleh Zahrah Afifah mengenai Kasus dan Fakta Perdagangan. Terdapat 3 modus perdagangan Burung Paruh Bengkok di Indonesia yaitu :
1.      Modus online trade
2.      Modus penyelundupan
3.      Modus konvensional

Modus penyelundupan merupakan modus yang paling tinggi karena untuk distribusi ke online trade dan konvensional. Jenis yang banyak dijual adalah Nuri dan Kakaktua. Tindakan lanjut yang dilakukan untuk mengkonservasi Burung Paruh Bengkok diantaranya adalah pelepasliaran, monitoring pelepasliaran tersebutm dan rehabilitasi. 



Rabu, 18 Mei 2016

Caper: Perilaku Agonistik Monyet Ekor Panjang

            (Caper: Catatan Perjalanan)

Ghita Rosika Amalia 
KSP 12

          Macaca fascicularis  atau biasa yang kita kenal dengan Monyet Ekor Panjang mungkin sudah tidak asing lagi untuk kita khususnya anggota yang berpartisipasi dan berada dalam organisasi konservasi primata KSP Macaca. Primata yang dulunya “sering” dipanggil dengan sebutan ‘Sarimin Pergi ke Pasar’ ini saya jadikan sebagai objek penelitian selama Kuliah Kerja Lapangan di Pangandaran bersama rekan saya Imam, Dea, Arum dan Tri Eka serta tidak lupa dengan Dosen Pembimbing kami, dosen terasyik yaitu Bu Ninul. Hidupnya yang kosmopolit pastinya lebih memudahkan untuk kita menjumpainya dimanapun. Perilakunya yang dengan mudah terhabituasi membuat kami tertarik untuk mengamatinya terutama perilaku agonistik yang kerap kali kita jumpai di Muara Angke. Agonistik yang dilakukan oleh Monyet Ekor Panjang ini mengarah pada para wisatawan yang berada di Pangandaran, karna itu saya dan teman – teman saya mengangkat judul penelitian “FAKTOR AKTIVITAS WISATAWAN YANG MEMPENGARUHI PERILAKU AGONISTIK MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis Raffles, 1821) DI TWA dan CA PANGANDARAN”
          Primata kosmopolit di Pangandaran ini terkenal dengan sebutannya sebagai Monyet Abu. Perilakunya yang agresif dan sering menyerang para wisatawan pun sangat sering dijumpai tidak heran bahwa saya dan beberapa teman – teman bahkan dosen saya pun terkena perilaku agonistiknya. Menurut Eaton (1986) perilaku agonistik adalah perilaku yang meliputi sikap untuk berkelahi dan intimidasi. Banyaknya wisatawan yang datang berlibur dan habitat Monyet Ekor Panjang yang hidupnya berdampingan dengan manusia menjadikan perilaku mereka lebih agresif dari biasanya. Tempat penelitian yang kami ambil adalah di Taman Wisata Alam Pantai Pasir Putih Pangandaran dimana banyak wisatawan yang datang untuk menikmati laut dan juga snorkeling disana serta Cagar Alam Ciborok Pangandaran, yang termasuk daerah yang sering dilewati oleh wisatawan. Hipotesis pertama saya muncul mungkin karna Monyet Abu ini merasa terancam dengan keberadaan manusia yang mau tidak mau harus terhabituasi di dalam habitatnya ini, tapi ternyata setelah melakukan pengamatan selama dua hari, faktor wisatawan juga sangat berpengaruh dalam memicu perilaku agonistik Monyet Abu tersebut.
          Kami membuat tiga faktor aktivitas wisatawan yang mempengaruhi perilaku agonistik Monyet Abu, yaitu membawa barang, memberi makan dan sengaja mendekati Monyet Abu. Banyak wisatawan yang membawa barang menarik perhatian Monyet Abu ini, mungkin dia mengira barang bawaan wisatawan terdapat banyak makanan yang dapat diambil. Saya pun melihat ketika kelompok teman saya sedang melakukan penelitian dan menaruh barang – barangnya yang berisi alat – alat dan bahan penelitian, Monyet Abu ini mulai mendekati dan melihat – lihat apa isi barang tersebut dengan mengacak – acak, setelah dia tidak menemukan adanya makanan barulah Monyet Abu pergi dan mendekati wisatawan lain.
          Pertama saya akan menceritakan penelitian saya dan teman – teman saya pada hari pertama di Taman Wisata Alam Pantai Pasir Putih Pangandaran. Banyak wisatawan yang juga sengaja mendekati Monyet Abu ini, memberi makan, mengambil gambar maupun meledek Monyet Abu ini. Hasil penelitian yang kami dapatkan semakin bagus ketika ada sekelompok wisatawan yang ceroboh berasal dari jawa timur sedang snorkeling  di Pantai Pasir Putih Pangandaran sambil menikmati pemandangan bawah laut. Awalnya mereka sengaja mendekati Monyet Abu dan tidak jarang memancing perilaku agonistik Monyet Abu dengan plastic bekas makanan mereka. Monyet Abu segera menggeram dan merebut plastic tersebut. Ketika sekelompok wisatawan tersebut sedang lengah dan terlalu terlena dengan pemandangan di Pantai Pasir Putih, mereka tidak memantau ataupun menjaga barang bawaan mereka. Tas yang mereka gunakan pun hanya mereka gantungkan di pohon. Saking asyiknya berenang, mereka tidak menyadari bahwa sekelompok Monyet Abu yang dari tadi mengawasi dan mengincar barang bawaan mereka telah mendekati tas wisatawan tersebut.
          Dengan sigap dan seakan sudah terlatih, Monyet Abu mengambil barang yang berada didalam tas wisatawan. Hal pertama yang menarik adalah, seakan tau barang penting wisatawan, si Monyet Abu mengambil dompet dan handphone wisatawan. Ketika salah seorang wisatawan tersebut melihat, dengan segera ia berteriak “Hey!” sambil mengejar Monyet Abu. Situasi dan kondisi menjadi ramai, para wisatawan menghentikan aktivitasnya, sebagian ada yang hanya menonton saja, sebagian hanya tertawa bahagia, sebagian lagi memukul Monyet Abu dengan batu agar Monyet Abu segera mengembalikan dompet serta handphone  mereka. Tentunya, saya dan teman – teman saya salah satu yang tertawa bahagia karna mendapatkan data yang bagus untuk penelitian kami, hehe terimakasih kepada mas – mas tersebut. Hal menarik kedua ketika Monyet Abu mulai membuka dompet wisatawan dan juga mengeluarkan semua isi dompet tersebut baik kertas - kertas yang berada di dalam dompet. Entah apa isi kertas tersebut, semoga bukan kertas kenangan dari sang mantan alias surat cinta(?), uang – uang berwarna biru berterbangan ditepi pantai dan juga stnk wisatawan yang dibuang oleh Monyet Abu. Wisatawan tersebut tidak tinggal diam, dia terus mengejar Monyet Abu dan melemparinya dengan batu serta omelan – omelan kecil dalam bahasa jawa. Monyet Abu yang terganggu mulai menyeringai kepada wisatawan tersebut. Ketika dompet tersebut sudah rusak, Monyet Abu melemparkannya ke bawah dan langsung pergi.
          Hal menarik lainnya adalah hal lucu yang saya dengar dari salah satu mamang jagawarna tersebut adalah ketika si mamang memanggil setiap Monyet Abu dengan sebutan dede. Mamang tersebutdengan santai berkomunikasi dengan Monyet Abu dan meminta Monyet Abu mengembalikan handphone wisatawan dalam bahasa sunda. Ketika mamang tersebut mengatakan “de, lemparkeun de, jatuhkeun” seakan mengerti, Monyet Abu melempar handphone mas – mas tersebut ke bawah dan jatuh mengenai bebatuan. Handphone mas – mas tersebut seketika hancur tidak berbentuk. Peristiwa semacam ini seharusnya menjadikan para wisatawan lebih berhati – hati lagi dalam menjaga barang bawaannya terutama jangan berusaha untuk mengganggu Monyet Abu. Setelah puas mengumpulkan data dari mas – mas tersebut, kami pamit pergi untuk kembali ke pintu gerbang Cagar Alam karna hari sudah semakin siang dan juga sudah waktunya untuk sholat dan istirahat.
Setelah selesai makan, saya dan teman – teman saya serta Bu Ninul kembali ke tempat tersebut. Karna waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, wisatawan yang ada sudah berkurang, Monyet Abu pun sudah tidak sebanyak sebelumnya. PErilaku mereka hanya sebatas bermain dan makan sampah yang dihasilkan wisatawan. Karna dirasa sudah tidak ada lagi aktivitas agonistik Monyet Abu maka kami mengakhiri pengamatan tersebut.
Hari kedua kami kembali ke Pantai Pasir Putih, saat perjalanan kami ke Pantai Pasir Putih kami bertemu dengan Hanif yang juga sedang melakukan penelitian aktivitas harian Monyet Ekor Panjang. Dengan santai kami berjalan melewati Monyet Abu yang sedang beraktivitas. Awalnya ketika Imam lewat tidak ada masalah, ketika Eka dan Arum lewat pun tidak terjadi apa – apa, tetapi ketika saya mulai melewati sekelompok Monyet Abu tiba – tiba dari arah kiri saya seekor Juvenille male menyerang saya diikuti dengan adult male yang menyeringai sedangkan si Juvenille male tersebut menarik rok saya. Merasa takut dan juga kaget saya berteriak meminta pertolongan kakak – kakak yang berada disitu dan teman – teman saya. Hal yang menyebalkan pun terjadi ketika mereka malah tertawa dan menulis data menjadikan saya sebagai objek. Hanif berteriak “Ghita kamu lari aja Ghit” sedangaka saya spontan tidak bergerak karna merasa takut atas serangtan mendadak Monyet Abu. Akhirnya Arum mulai membantu saya mengusir Monyet Abu dengan melayangkan kayu ke arah Monyet Abu.
Setelah peristiwa mengejutkan tersebut, kami berjalan kembali kea rah Pantai PAsir Putih. Anehnya sepanjang perjalanan pun kami tidak melihat adanya Monyet Abu. Kalau kata mamang disana “Monyetnya lagi reunian neng, makanya nggak ada”. Kami terus menelusuri pantai Pasir Putih berharap bertemu dengan Monyet Abu, tetapi tidak ada satupun yang terlihat. Merasa lelah menunggu walaupun kami sudah terbiasa menunggu hal yang tidak pasti akhirnya kami memecah kelompok. Arum, Dea, Eka dan Bu Ninul menanti kedatangan Monyet Abu di Pantai Pasir Putih, sedangkan saya dan Imam kembali ke Ciborok, tempat saya diserang tadi. Ketika saya dan Imam sudah sampai di Ciborok, kami melihat sekelompok Monyet Abu yang tadi menyerang saya dan juga kelompok Hanif yang sedang melakukan pengamatan. Akhirnya kami bergabung dan mengamati Monyet Abu bersama – sama. Tidak terjadi aktivitas agonistik yang kami lihat sampai pada akhirnya ada sekelompok wisatawan sedang melakukan piknik diluar daerah Cagar Alam, dengan cepat sekelompok Monyet Abu memanjat pagar melewati pembatas dan langsung berlari kea rah wisatawan. Mulanya, wisatawan tidak merasa terganggu karna mereka hanya mengusir Monyet Abu dengan kibasan tangan, tetapi ketika Monyet Abu yang lain datang, wisatawan mulai merasa terganggu.
Seekor Monyet Abu Juvenille male mengambil botol the sisri pengunjung, wisatawan yang sedang piknik pun merasa takut karna banyaknya jumlah Monyet Abu yang menghampiri mereka. Wisatawan tersebut bangun dan mulai mengambil tongkat untuk mengusir Monyet Abu. Bukannya merasa takut, Monyet Abu tersebut malah melawan dan kembali mengambil makanan wisatawan. Merasa sudah terancam, akhirnya wisatawan mengemasi barang dan masuk ke dalam mobil lalu pergi. Monyet Abu pun kembali masuk ke dalam Cagar Alam dan kembali melakukan aktivitas seperti sebelumnya.
Perilaku Agonistik Monyet Abu maupun primata – primate lain sangat menarik untuk diamati, diteliti dan dianalisis. Tidak sedikit wisatawan yang datang memberikan makan kepada Monyet Abu sehingga ia sudah terhabituasi dan perilaku alaminya pun berubah. Banyaknya wisatawan membawa barang diserang adalah karna sikap wisatawan yang sudah mengubah perilaku Monyet Abu tersebut, sehingga ketika wisatawan datang dengan membawa barang bawaan, Monyet Abu atau yang akrab dipanggil dede ini mulai mendekati wisatawan yang mengira bahwa barang bawaan wisatawan tersebut adalah makanan makanya tidak jarang perilaku agonistik Monyet Abu dipicu oleh aktivitas wisatawan sebelumnya. Hingga saat ini kami belum bisa memastikan bagaiman untuk menghentikan perilaku agonistik Monyet Abu tersebut terhadap pengunjung.

Karna waktu sudah semakin siang, maka pengamatan kami akhiri dan kami kembali ke hotel untuk persiapan presentasi hasil pengamatan kami selama dua hari ini. Setelah itu kami istirahat untuk besok body rafting dan juga pulang ke rumah masing – masing. Harapan saya bahwa nantinya penelitian saya dan teman – teman saya ini bisa memberikan manfaat kepada wisatawan agar kegiatan wisatanya tidak terganggu oleh keberadaan Monyet Ekor Panjang yang kini statusnya sudah dilindungi pemerintah.serta untuk mengelola wilayah sehingga mengurangi terjadinya konflik antara wisatawan dan Monyet Ekor Panjang.




Selasa, 15 Maret 2016

SEKONS (Seminar Ekologi dan Konservasi) 2015

Pada 5 Desember 2015, KSP Macaca kembali menyelenggarakan acara besar berupa seminar yang berjudul SEKONS 2015 (Seminar Ekologi dan Konservasi) 2015. SEKONS tahun ini mengambil tema "Menguak Eksotika dan Upaya Konservasi Primata Nokturnal Indonesia." Aula M. Yusuf Lantai 2 di gedung IDB II UNJ menjadi tempat berlangsungnya SEKONS kali ini. Ada tiga narasumber yang menjadi pembicara untuk SEKONS kali ini, yaitu Ir. Wirdateti, M.Si (Puslit Biologi LIPI), Dr. Suroso Mukti Leksono, M.Si (Peneliti Tarsius dari UNTIRTA), dan organisasi YIARI. Selain itu, terdapat hiburan gitar akustik dari Mahasiswa Biologi UNJ. Berikut beberapa dokumentasi acara SEKONS 2015 : 












Photo oleh : Sie HPD Sekons 2015
Ditulis dan Dipublikasikan oleh : Departemen Kominfo KSP Macaca 2015-2016