Seminar Ekologi dan Konservasi (SEKONS) 2021

SEMINAR EKOLOGI DAN KONSERVASI (SEKONS) KSP Macaca UNJ 

“Pelihara Primata, Boleh Gak Sih?”



Jakarta - Pada (18/12/2021) KSP Macaca UNJ mengadakan kegiatan webinar umum yang bertajuk “SEKONS 2021 : Pelihara Primata, Boleh Gak Sih?”. SEKONS yang merupakan singkatan dari Seminar Ekologi dan Konservasi merupakan suatu kegiatan tahunan dari KSP Macaca UNJ yang dilaksanakan untuk mengedukasi dan memberikan pemahaman seputar dunia ekologi dan konservasi khususnya di bidang keprimataan, dengan SEKONS tahun ini yang mengusung tema menyinggung tren pemeliharaan dan perdagangan primata di tengah masyarakat. Kegiatan ini berfungsi sebagai sarana bagi masyarakat, khususnya kalangan awam, agar lebih waspada terhadap adanya pemeliharaan dan perdagangan primata di sekitar mereka. Kegiatan SEKONS 2021 ini dilakukan secara daring melalui platfrom Zoom Meeting dan Live Youtube karena situasi masih dalam pandemi sehingga tidak memungkinkan untuk melaksanakan seminar langsung secara tatap muka.

Kegiatan diawali dengan penyebaran ­isian presensi kehadiran peserta webinar pada pukul 12.45 WIB. Acara resmi dimulai tepat pukul 13.00 WIB dan dibuka segera oleh Putri Damayanti dari KSP XVI selaku MC acara, kemudian dilanjutkan oleh Dimas Afrizal dari KSP XVIII dalam rangka tilawah dan pembacaan doa. Acara disambung dengan sambutan dari beberapa pihak, antara lain Yulia Niki dari KSP XVIII sebagai ketua panitia pelaksana, Inge Oktavianti Fabian dari KSP XVII sebagai ketua KSP Macaca UNJ, serta oleh Pak Ade Suryanda selaku Pembina KSP Macaca UNJ yang sekaligus juga membuka kegiatan SEKONS 2021 secara simbolis.


Acara berlanjut ke kegiatan inti, yaitu pemaparan materi dari total empat orang pembicara dengan topik yang berbeda. Adapun yang bertugas dalam memoderatori pemaparan materi dan sesi diskusi setelahnya adalah Noviana Misnannisah dari KSP XV. Moderator terlebih dahulu membacakan CV dari para pembicara sebelum materi dimulai.

Sesi pemaparan materi dibuka dengan topik pertama berjudul Bahaya Pemeliharaan Primata dari Segi Medis yang dibawakan oleh drh. Merry Ferdinandez Wain dan Loes Schure, DVM, M.Vet.Sc. dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Drh. Merry berfokus pada kajian kesejahteraan hewan, khususnya primata yang dipelihara, dengan diawali penayangan video mengenai topeng monyet. Banyak alasan yang mendasari kenapa hewan liar khususnya primata bukanlah hewan untuk dipelihara, diantaranya adalah kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi hingga adanya ketidaksesuaian dengan di alam. Ada siklus yang terjadi jika primata dipelihara dan akan menimbulkan banyak kerugian dan konflik dengan manusia di akhir siklusnya. Perlu adanya aksi nyata dan adopsi hewan domestik dari shelter sebagai solusi. 


Ms. Loes menjelaskan bagaimana bahayanya manusia bagi primata dan adanya potensi kepunahan, khususnya bagi monyet ekor panjang. Permintaan tinggi terhadap bayi Macaca diakibatkan adanya topeng monyet dan banyak influencer yang mempertontonkan bayi Macaca sebagai hewan yang lucu, sehingga kemudian Ms. Loes menyatakan perlu adanya regulasi tegas dari pemerintah.


Materi kedua adalah penyampaian materi dengan topik Pelihara Primata dan Fenomena yang Diakibatkannya, yang disampaikan oleh Ismail Agung Rusmadipraja, S.Si. dari International Animal Rescue (IAR). Kak Ismail memulai membahas dengan alasan orang banyak memelihara primata yang terangkum dalam tiga golongan yaitu evolusi, psikologis, dan sosiologis. Ada anggapan baik tentang pemeliharaan monyet, tetapi faktanya monyet sebagai primata yang termasuk hewan liar dapat menimbulkan banyak kerugian jika dipelihara. Dijelaskan juga rantai penyuplaian primata dari mulai perburuan, pemeliharaan, hingga kematian primata. Kak Ismail pun menampilkan data banyaknya konflik primata serta monetisasi kekejaman primata dengan konten di berbagai media sosial. Adapun langkah yang dapat dilakukan dalam menghentikan kekejaman primata di media sosial adalah waspada, laporkan, jangan ditonton, jangan terlibat, dan jangan disebarkan. Sebenarnya dilarang pula mengunggah foto interaksi bersama primata tanpa perlengkapan yang memadai.


Pemaparan materi terakhir adalah dari Dr. Herlina A., S.Sos., M.T. dari Ilmu Komunikasi UNPAD yang menyampaikan materi dengan topik Primata, Media, dan Pemerintah Kita. Bu Herlina di awal menjelaskan bagaimana primata dianggap sebagai suatu hal yang buruk pada media konvensional, lalu berlanjut di media sosial yang menganggap primata sebagai hewan layak dipelihara akibat konten influencer. Banyak pasar daring yang memperjualbelikan primata, dengan yang terbesar adalah Facebook. Pasar nyata pun banyak memperdagangkan primata, bahkan salah satunya adalah adanya orangutan yang dijual di pinggir jalan. Primata yang tidak dilindungi jauh lebih rentan dalam diperjualbelikan dan dipelihara.


Setelah usai pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab antara para pembicara dengan peserta webinar. Sesi diskusi berlangsung selama 40 menit dengan berbagai pertanyaan yang berasal dari beragam kalangan, yang ditujukan merata untuk keempat pembicara. 


Setelah sesi diskusi selesai dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat bagi para pembicara dan juga moderator. Acara dilanjutkan dengan pelaksanaan kuis mengenai materi yang telah dipaparkan, lalu disambung dengan pengumuman pemenang setiap lomba SEKONS yang telah diselenggarakan. Sebelum acara ditutup oleh MC, dilakukan dokumentasi dan foto bersama hingga akhirnya ditutup oleh closing statement dari MC.



Salam Lestari!

Salam Konservasi!

KSP Macaca UNJ

Inisiatif, Kreatif, Kontributif

© HUMAS KSP Macaca UNJ

Komentar